Aku sedih, membayangkan mengapa ada anak yang bisa tinggal di rumah mewah, sementara ada bocah yang harus tidur di sebuah halte bus, kedinginan, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluk tubuh mungilnya lebih erat.
Aku sedih, merenungkan mengapa ada orang yang bisa dengan bangga menunjukkan mobil mewahnya sementara disampingnya berdiri seorang lelaki tua yang dengan tekun memungut tiap sampah yang ada, karena dia tahu hanya inilah cara agar dia bisa membawa pulang sebungkus nasi untuk istri dan anaknya.
Aku sedih, memikirkan mengapa ada orang yang bisa makan di hotel bintang 5 tiap harinya, sementara yang lain bahkan berbagi sebuah roti yang dipungutnya dari pinggir jalan.
Aku hanya sedih, mengapa mereka tidak diberikan kesempatan yang sama untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih indah seperti yang kuterima.
Dan aku sedih, karena aku hanya bisa tertegun diam, bersimpati ada apa yang mereka lalui, kemudian begitu saja melupakannya tanpa sempat berbuat apa-apa dan kembali ke segudang rasa ego dan kenikmatan pribadi.
Aku sedih, karena aku hanya bisa menangisi ketidakadilan..
Terinspirasi dari sebuah pembicaraan santai dengan Jeffery Tjahyowargo .
Ferry : Kadang kalau dipikir-pikir dunia tuh bener-bener ga adil yah. Tiap orang ga diberikan talenta yang seimbang. Adakalanya kita sudah kerja keras eh tetap saja ga bisa mengalahkan orang santai yang bertalenta tinggi
Jeffery : Bicara soal ketidakadilan, sebenarnya hal yang paling objektif di dunia mungkin bisa sebut ketidakadilan itu. Coba loe pikir, apa yang dilakukan oleh anak raja sampai dia disebut dengan anak raja? Dan apa yang dilakukan oleh anak penjahat sampai-sampai orang menyebut dia begitu?
Ferry : Hmm.. Ga ada ??!…
Jeffery : Iya.. Ga ada.. Mereka sama-sama tidak melakukan apa-apa tapi mereka akan menjalani hidup yang jauh berbeda nantinya.. Apa ini bisa disebut adil ?!..
Ferry : …